Total Tayangan Halaman

Rabu, 02 November 2011

TAPAL BATAS

Dengan darah, sejengkal tanah dipertahankan. Maka bicara tentang tanah, sama saja dengan bicara tentang darah. Hal yang sensitif ini harus diselesaikan dengan baik, jika tidak maka akan kembali kepada penyelesaian asal yakni darah.
Apa penyelesaian yang baik itu? Satu-satunya cara yang masih tersisa, selain penyelesaian dengan darah yang menjadi puncak penyelesaian setelah segala jalan tak bisa ditempuh, yakni mengurai sejarah. Jika sejarah dapat dipaparkan dengan baik, diberikan penjelasan yang hakiki, dan diletakan pada dasarnya yang wajar, maka kita akan paham, mana yang sepatutnya berhak dan mana yang tak sepatutnya berhak.
Dengan demikian, tak akan terjadi pertumpahan darah sebagaimana yang dikhawatirkan, karena batas tanah sekali lagi merupakan hal yang terlampau sensitif.  Ini ditunjang lagi dengan bukti kepemilikan yang tak tertulis seperti sertifikat.
Kepemilikan atas tanah di tempat ini, berdasarkan sumpah para pendahulu yang mewariskan tanah itu. Jadi jika ada yang main-main dengan batas tanah, maka yang bersangkutan akan berurusan dengan sumpah yang melekat atas tanah itu.
Juga perlu diingat bahwa apa sumpah yang terucap, tak ada yang tahu, karena disampaikan dengan gaya lisan. Maka penyelesaian atas sengketa batas tanah pun sedemikian runyam. Bukti kepemilikan tanah akhirnya beralih pertaruhan yang murni.Jika benar maka tegak, jika salah maka gugur.  Demikianlah adanya hukum adat di Adonara  menyelesaikan perkara.  Tapi itu dulu. Namun jika di zaman ini masih ada yang ngotot juga, bukan tak mungkin hal serupa akan terulang. Karena hal ini sepertinya sudah menjadi darah daging di Adonara.
Zaman ini, ketika hukum ditegakan dalam keadaan miring sana miring sini, yang benar dapat disalahkan, yang salah dapat dibenarkan karena berbagai cara, maka tidak demikian dengan sejarah. Zaman ini, asal ada uang maka penentu keadilan dapat disogok beberapa rupiah untuk membelokan keadilan. Maka zaman dulu, ditentukan dengan darah. Jika benar maka tetap tegak di atas tanah itu, jika salah namun tetap ngotot maka akan terkapar.
Hal yang sedang diuraikan ini bukanlah menyangkut suatu batas tanah di suatu negara yang begini luas, tetapi soal batas tanah di pulau nun jauh di sana, di Pulau Adonara, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Meski berada dalam suatu wilayah kabupaten di dalam negara ini yang telah memiliki hukum negara untuk menentukan segala hukum dan aturan soal hak milik, namun orang Adonara juga punya aturan sendiri yang sudah ada sejak dulu, entah kapan.
Yang jelas ini aturan warisan yang tetap dipegang teguh, dan tak pernah lekang dimakan zaman. Putusan hakim di dalam ruang sidang, hanya dianggap sebagai sinetron. karena dianggap telah kehilangan dasarnya yang murni?
Mengapa? Karena putusan hakim di dalam ruang sidang yang digelar di atas dunia ini, bisa berubah warna seperti bunglon sesuai situasi. Bisa putih, hitam, bahkan abu-abu.
Bagi orang Adonara, memungkiri aturan adat Adonara sama saja dengan memungkiri diri sendiri, karena setiap jengkal tanah dipertahankan dengan darah.
Aturan di atas kertas boleh ngoceh tentang kebenaran sampai ke ujung langit, tapi sanggupkah aturan itu berhadapan dengan PENGADILAN DUNIA BAWAH TANAH? Inilah yang menjadi patokan paling akhir, yang membuat orang berpikir ribuan kali jika mau melanggar batas tanah, bahkan pelanggaran-pelanggaran lainnya tergantung kadar pelanggaran.
Jika Kitab Suci telah memiliki aturan sendiri soal batas tanah, maka demikian pula aturan adat. Dan kedua aturan itu untuk masyarakat Adonara tampaknya tak terlampau berseberangan, meski aturan adat memang jauh lebih keras dan tegas jika dibandingkan kitab suci.
Kitab suci memang melarang dengan sangat tegas, namun aturan adat disertai sanksi adat yang boleh dikatakan sangat mengerikan Seperti yang diuraikan sebelumnya, tanah = darah.
Di zaman ini, ketika makin banyak orang yang sekolah dan mempelajari aturan yang dibuat negara, beserta segala cara meloloskan diri jika terlibat masalah, orang mulai mencari-cari cara juga untuk mendapatkan sesuatu yang bukan hak.
Apakah demikian juga terjadi di Adonara? Saya pikir hanya orang yang punya nyawa rangkap 10 saja seperti Rahwana yang berani melakukan hal itu. Karena sanksi adat sangat nyata, dan itu berlangsung di segala zaman.
Dapatkah seseorang atau sekelompok orang mengakui sebidang tanah apalagi suatu kawasan sebagai miliknya sementara yang bersangkutan tak tahu sama sekali sejarah atas tanah itu? Adonara tidaklah terlalu luas, dan bagaimana sejarah tanah milik masing-masing lewo yang ada di dalamnya, sungguh sangat jelas.
Jika di kemudian hari tiba-tiba ada yang mengklaim tanah itu sebagai milik tanpa latar sejarah yang jelas, maka inilah yang tampaknya menjadi cikal bakal pertumpahan darah baru di era modern.
Sementara itu, penyelesaian tapal batas dengan menggunakan aturan pemerinta/negara, tampaknya kurang bahkan tak berpengaruh di dalam hukum adat Adonara. Karena itu, penyelesaian melalui jalur pemerintah, bukannya berujung penyelesaian melainkan menambah bara di atasnya.
Satu-satunya untuk menghentikan segala kekacauan ini yakni penyelesaian secara adat istiadat, Jika zaman sebelumnya masing-masing orang berdiri di tapal batas dengan reket masing-masing untuk membuktikan kebenarannnya menurut hukum Adonara, maka ada pula jalan yang tak harus berhadapan langsung dengan reket. Yakni Sumpah di depan Nuba.
Di tempat itulah para pihak dapat mengangkat sumpah satu sama lain untuk menegaskan tapal batas masing-masing sesuai latar sejarah. Masalah yang muncul kemudian yakni, dimanakah sumpah itu akan dilaksanakan dan di depan Nuba yang mana. Jika tak ketemu lagi jalan yang sesuai maka satu-satunya jalan yakni mendirikan Oring Geraran dan Paha Eken serta peri Nobo di tapal batas  yang diakui...
Lebih lanjut, kita semua tak akan sanggup menjamin, apakah yang akan terjadi kemudian. Jika bukan "ata tani maka ata geka."  Itu saja. Dan lebih dari semuanya itu, akan lebih baik jika yang merasa tak tahu latar sejarah dan tak berhak, sebaiknya jauh-jauh hari mundur dan melakukan perdamaian. Karena ini jalan paling baik, tanpa korban sama sekali, selain korban beberapa ekor hewan untuk upacara perdamaian. Manakah yang anda pilih....???  Selagalas, 3 November 2011



Selasa, 01 November 2011

DUNIA BARU

Ketika manusia jatuh dalam dosa, maka Tuhan menciptakan dunia baru bagi manusia. Manusia tak lagi tinggal di Firdaus yang serba ada. Mereka didepak keluar dari taman yang menjadi impian umat manusia yang menghuni bumi sekarang ini maupun manusia di zaman jauh sebelum ini.
Terhadap manusia pertama beserta keturunannya, masih berlimpah berkat yang luar biasa. Kemudian datanglah masa kegelapan lagi. Bumi harus disucibersihkan dari manusia yang terlalu banyak yang hidupnya sudah tidak karuan.
Tuhan juga mengadili Sodom dan Gomorah dengan api. Barang siapa yang masih menghendaki apa yang ada di dalamnya dan menoleh untuk mengambil sesuatu di dalamnya, akan menjadi tiang garam.
Ada pula kota yang masih dapat diselamatkan seperti Niniwe yang mau mendengar peringatan Tuhan melalui Nabi Yunus
Manusia yang jatuh bangun dengan nafsunya yang berkobar ini, juga jatuh sangat jauh sehingga butuh pembersihan cukup total. Tuhan mengirim air bah, namun menyelamatkan Nabi Nuh beserta keluarga dan kerabatnya, termasuk segala hewan peliharaannya dan lain sebagainya.
Pembersihan demi pembersihan mulai muncul di segala zaman dalam berbagai bentuk dan ragam.Gempa bumi, perang, kelaparan,dan lain sebagainya menjadi warna lain dalam pengadilan baru untuk sebuah dunia baru.
Semua itu ada dalam Kitab Suci Injil. Lantas bagaimana dengan keseharian kita di zaman ini? Zaman ketika pemberitahuan akan hal ini telah disampaikan ribuan tahun lalu?
Bahwa akan ada dunia baru. Entah seperti apa bentuknya, dan seperti apa nanti manusia yang ada di dalamnya.
Namun patokannya, tetap sama saja dari dahulu kala, bahwa yang masuk dalam dunia baru hanyalah manusia yang lolos seleksi. Jika tak lolos seleksi, tak mungkin akan masuk dalam dunia baru.
Bicara tentang dunia baru, seakan sebuah bayang-bayang, siapakah yang tahu, dan siapakah yang menjaminnya? Namun jaminan dunia baru sangat jelas, yakni jaminan akan kehdupan yang penuh dengan kasih, suka cita, dan damai sejahtera.
Dunia baru hanya memuat hal ini. Jika masih ada pertentangan atau perselisihan maka   dunia baru hanyalah berisi bayang-bayang kiamat yang datang dan perginya pun serba misterius.
Bagi manusia yang hidup dalam suasana kasih,sukacita, dan damai sejahtera, maka hari-hari hdupnya dipakai untuk menantikan apa yang disebut sebagai dunia baru itu. Dunia yang bebas dari rasa dengki, iri, dan benci. Bahkan tanpa disadarinya, sebenarnya dia sudah ada dalam dunia itu seraya menanti kepenuhan.
Dunia yang menyatukan semua hati dalam kasih sayang yang penuh. Tiada lagi saling curiga atau berprasangka. Dunia yang begitu sulit diukur takarannya dengan kondisi dunia saat ini yang penuh dengan wabah penyakit, kelaparan, perang, dan bencana-bencana.
Manusia bukan tak mungkin melangkah ke sana, namun seperti menyeberangi lautan orang butuh kapal, maka menyeberang ke dunia baru pun butuh sarana bahkan jika menganut konsep Krstiani, manusia butuh diselamatkan.
Sekarang, jika ada orang mulai berseru di padang gurun kehidupan ini, Luruskanlah Jalan Tuhan, Ratakanlah lorong-lorong. Setiap lekukan harus ditimbun. karena Dia yang telah ditetapkan sejak zaman prbakala dan para nabi, akan datang menyelamatkan dunia, janganlah manusia terus menutup telinganya dan membutakan matanya, atau membendung dengan sekuat tenaga suara itu dengan dentuman musik dari ruang dugem yang gegap gempita.
Hal itu bukan tak boleh, namun di zaman yang menjelang akan berakhir ini, perlu ada upaya memanfaatkan waktu yang tersisa untuk mendengarkan suara yang dikumandangkan sedemikian lantang dari padang gurun kehidupan ini.
Padang gurun di zaman Yohanes Pembaptis, memang benar-benar padang gurun, sebagaimana Yohanes pun makan belalang dan madu hutan. Namun bukan mustahil, kehidupan zaman ini yang dilanda krisis iman, maupun krisis hidup karena banyak orang lebih senang bermain-main di bibir maut, dapat pula diartikan sebagai padang gurun kehidupan yang sedemikian haus akan setetes kasih sayang, apalagi suka cita, dan damai sejahtera. 
Siapakah suara yang berseru-seru di zaman ini, dari gurun kehidupan yang panas mencekam itu? Dengarkanlah suaranya segeralah ambil langkah sebelum semuanya terjadi, karena akan ada penyesalan panjang jika segalanya telah terjadi.
Sebagaimana Yohanes Pembabtis ditolak dan dipertanyakan kuasanya saat membaptis orang termasuk membaptis Yesus, demikian pula Yohanes Pembaptis zaman ini, yang akan datang dengan suara yang lantang dari padang gurun kehidupan, menantang para penguasa tamak, dan farisi-farisi berjubah panjang yang berbaris di loteng rumah ibadat.
Segeralah buka mata dan siagalah, karena hal ini berlangsung dalam waktu yang cukup sulit diterka. ....Demikian dan harap maklum..serta terserah padamu.....Selagalas, 2 November 2011.

Senin, 31 Oktober 2011

Menangani Malapetaka




Barangkali benar, bahwa kami memang orang primitiv. Karena itu cara penanganan yang kami lakukan terhadap berbagai malapetaka pun sungguh berbeda dengan cara penanganan yang dilakukan orang modern yang sudah tentu lebih jauh maju perkembangannya.
Ketika terjadi malapetaka di daerah lain, entah itu wabah penyakit atau bencana-bencana lain, orang berteriak keras kepada pemerintah agar segera membantu. Segera datangkan tenaga medis atau pasukan SAR atau siaga bencana, dan lain-lain.
Ini sungguh berbeda dengan daerah saya yang nun jauh di sana, di kaki Gunung Boleng (Ile Boleng), Desa Watoone, Adonara, Flores Timur.Ketika datang malapetaka atau bencana, jarang ada orang yang berteriak kepada pemerintah.
Ada beberapa kemungkinan yang melatarbelakangi, mengapa masyarakat tak berteriak kepada pemerintah. Pertama, karena masyarakat sudah terbiasa menghadapi hal seperti ini sendiri tanpa minta bantuan pemerintah, atau suara masyarakat yang sayup nun jauh di kaki bukit, tak sanggup terdengar hingga ke takhta pemerintah yang tampaknya terlampau sibuk mengurus hal-hal lain ketimbang mengurus malapetaka yang menimpa warga.
Apalagi, mengurus malapetaka yang menimpa warga hanya membuat lelah saja.Belum lagi ditambah dengan pusat pemerintahan yang ada di seberang laut, membuat teriakan itu kian sayup terdengar. 

Mungkin begitu. Tak usah bicara dulu soal flu burung yang akhir-akhir ini mewabah di Adonara. Bahkan rabies yang menggila beberapa tahun bahkan belasan tahun lalu di daerah ini pun sampai sekarang belum ditangani hingga tuntas.
Itu soal rabies. apalagi soal malapetaka lain yang menimpa warga. Misalnya, sekumpulan anjing yang melahap habis hewan sekandang yang bagi orang setempat menyebutnya Aho Berongoten.
Anjing jenis ini masih menjadi misteri hingga kini.
Tak hanya binatang, bahkan manusia yang mencoba menghalanginya melahap binatang, bisa ikut mau dimakannya. Memang sejauh ini belum terdengar ada Aho Berongoten yang makan manusia. Namun demikian, hal itu bukan tak mungkin. Lihatlah, bagaimana kuda dan babi pun kadang dimakan anjng jenis ini. 
Yang mengherankan, anjing jenis ini munculnya serba misterius, begitu juga menghilangnya. Mereka datang berkelompok, menyerbu kandang  yang penuh dengan kambing atau domba, setelah itu tak berapa lama, kandang itu menjadi sangat sepi, karena semuanya telah dilahap habis.
Ada yang hanaya digigit sedikit saja dan ditinggalkan, namun kambing maupun domba itu mati total, sehingga tak bisa diapa-apakan. Lebih aneh lagi, pengalaman orang yang memakan kambing atau domba hasil gigitan anjing ini, mengaku kambing atau domba itu memiliki rasa tak seperti kambing atau domba pada umumnya. Rasanya terlampau hambar, sampai orang tak mau memakannya.
Sejauh itu, masyarakat kebanyakan pasrah, apalagi pemerntah. Jika dilihat-lihat, kantor pemerintah yang dihuni orang sekolah tinggi itu tampaknya jauh lebih bego dalam menyelesaikan masalah ketimbang orang kampung yang menghadapi masalah ini dengan kesahajaannya.
Jika dalam waktu cukup lama, dan anjing-anjing ini tetap saja beraksi, maka upacara kampung pun diadakan. Bagaimana prosesinya, tentulah hanya pemiliknya yang tahu. Namun fakta menunjukan, bahwa setelah adanya prosesi adat itu, anjing ini tak mengganggu lagi sampai tiba waktunya kapan-kapan.
Begitu juga dengan ayam, yang kini perkembangan teknologi penelitian menyatakan terserang wabah flu burung sehingga semuanya berguguran dari pohon-pohon seperti daun kering.
Masyarakat bukannya tak mau tahu soal itu. Namun sampai kapankah mengharapkan tenaga kesehatan hewan nongol di kampung sana untuk menyelamatkan ayam yang tersisa dari wabah ini? Fakta menunjukan bahwa petugas kesehatan baru nongol setelah ayam yang ada hanya tersisa 1 atau 2 ekor.
Mengharapkan pemerintah turun tangan dalam kasus seperti ini ibarat pungguk merindukan bulan.
Masyarakat adat pun kembali menggelar ritual dengan harapan, wabah serupa segera menjauh dari kampung halaman, namun apakah hal itu bisa menjamin, siapakah yang tahu? Dan terlebih lagi, siapakah yang peduli?
Di tengah segala kepasrahan yang kian tak menentu itu, datanglah petugas pajak mendata harta masyarakat yang makin sekarat karena panen pun gagal lantaran musim yang tak tentu.
Jangankan panen, tanam pun gagal, karena hujan yang turun tak menentu. Bibit yang tersimpan sejak musim lalu pun terancam akan "hangus", jika hujan tak kunjung turun.
Di tahun sebelumnya, kasus serupa terjadi. Bibit yang tersimpan hampir habis, karena gagal tanam. Setelah tanam, hujan tak turun, hujan turun setelah bibit hangus dibakar matahari. Dengan apakah kita harus mengumpamakan penderitaan macam ini?
Sekarang, di musim ini, petani kembali menanam sisa bibit musim lalu. Harapannya, hujan akan turun dengan baik, dan jagung yang tersisa pun bisa tumbuh, sampai berbunga dan berbuah. Namun kabar duka belum juga habis dari kampung.
Setelah hujan lebat semalaman mengguyur kampung dan para petani bersemangat menanam jagung di ladang, tiba-tiba dalam sepekan terakhir, hujan belum juga turun. Kalau begini terus, mau ambil darimana lagi bibit jagung untuk ditanam?
Di balik ketenangan wajah mereka dalam menjalani hidup, ternyata beribu misteri derita dalam dada mereka siap meledak sewaktu-waktu. Alam seakan tak bersahabat lagi. Tak hanya tumbuhan tapi juga hewan. Apakah gerangan dengan semua kejadian yang memilukan ini?
Mengharap pemerintah? Tampaknya pemerintah terlampau sibuk mengurus kedudukan. Mengurus suksesi berikut, mengurus keluarga dan kerabatnya. Tak sempat mengurus warga yang begitu banyak, yang datang demgan keluhan yang sama saja.
Kemudian kita bertanya? Apakah boleh rakyat mengeluh? Apakah boleh seorang pemimpin, petinggi, alias penggede, turun sebentar dari takhtanya untuk melihat sekilas nasib masyaraakat yang tak menentu ini?
Kini yang tersisa, masyarakat hanya andalkan singkong. Itu pun hanya dimiliki petani tertentu di kebun tertentu yang pada musim lalu, masih terpelihara dan belum sempat dicabut untuk makanan kambing atau babi.
Jika menunggu masyarakat berteriak, tampaknya masyarakat sudah tak kuat lagi. Dan jika pemimpin masih terus juga menunda langkahnya, maka datanglah kembali sewaktu-waktu dengan pasukan lengkap para penggali kubur. Mungkin itulah yang paling tepat dan memuaskan.  Betapa nikmat derita hidup ini. Selagalas, 1 November 2011


Pantai Aan, Lombok Tengah,NTB yang bakal menjadi kawasan wisata terkemuka

Kapela Watoone

Di kampung halamanku, Desa Watoone, Kecamatan Witihama, Adonara, Flores Timur, NTT, ada sebuah kapela (tempat ibadat Umat Katolik) yang lebih kecil dari gereja (paroki). Kapela ini berdiri sejak lama atas persetujuan tetua kampung. Bahkan menurut cerita yang saya dengar, jika tanpa persetujuan tetua kampung, kapela itu tak akan bisa berdiri.
Pastor paroki Witihama ketika itu, secara khusus datang ke Desa Watoone meminta persetujuan tetua kampung di Watoone, agar berkenan merestui berdirinya kapela itu. Al hasil, kapela itu berdiri. Dan setiap waktu, apalagi kalau ada upacara keagamaan  yang besar, baik misa maupun doa Rosario, kapela itu pasti penuh bahkan melimpah keluar. Maklumlah, orang Watoone, 100 persen menganut Agama Katolik.
Tidak hanya kapela Watoone, paroki Witihama yang begitu besar pun kalau orang Watoone datang misa, maka gereja akan penuh melimpah hingga ke halaman. Tapi jika orang Watoone tak datang misa, maka gereja cenderung sepi.
Belakangan ada masalah pelik yang mengganjal. Ada pastor yang tabiatnya kurang sejalan dengan orang Watoone yang sebenarnya keras namun sangat taat beragama itu. Al hasil, gereja pun jadi sepi karena orang Watoone pada umumnya mulai jarang misa di paroki.
Bahkan tak hanya paroki, kapela yang dibangun di tengah kampung pun mulai sepi pengunjung. Umat mulai ogah-ogahan karena dibuat liar oleh pastor yang sok suci. Sebegitu sepinya kapela sampai-sampai tak ada yang mengamati, jika atap, maupun pintu kapela mulai lapuk termakan usia.
Syukurlah, altar maupun patung2 terbuat dari kayu yang kelasnya lain (Lebih bagus) sehingga tak gampang rusak. Selain itu, letaknya yang di dalam sehingga jarang kena sinar matahari maupun hujan, membuat benda-benda kudus itu pun masih sangat awet.
Namun bagaimana dengan atap kapela? Begitu juga dengan dinding yang terbuat dari batu bata yang mulai dimakan bubuk? Ini perlu renovasi sebelum kapela akhirnya benar-benar roboh.
Rencana pun dibuat secara cermat untuk membangun kembali kapela, tak hanya sekadar renovasi, karena dinding maupun atap yang lapuk butuh perbaikan total.
Sejauh itu, tak ada sedikit pun perhatian dari Paroki Witihama selaku induk. Pastornya diam, dan umat se paroki pun diam. Sementara warga Desa Watoone dengan sekuat daya yang ada mau membangun kembali kapela yang nyaris roboh itu.
Meski tanpa rencana yang cukup matang namun karena adanya keinginan yang kuat untuk membangun kembali kapela maka dinding kapela itu pun dirobohkan untuk dibangun baru. Setelah dirobohkan, warga Desa Watoone, mulai berpikir kira-kira dari sumber dana manakah kapela itu dapat dibangun kembali.
Sejauh itu, Paroki Witihama tak ada suara.
Akhirnya syukur kepada Tuhan, karena ada salah seorang putra Watoone yang ketika itu menjabat Wakil Gubernur NTT,  Frans Lebu Raya (sekarang Gubernur NTT). Dengan uang dari kantong sendiri, putra Watoone ini menyumbang untuk pembangunan kapela.
Maka bahan-bahan pembangunan pun diadakan, dan pembangunan pun dimulai. Sayangnya, tantangan pembangunan kapela ini tak hanya sampai di sini. Di tengah jalan, pembangunan mangkrak karena orang yang diserahi tanggung jawab untuk pengadaan bahan, ternyata hanya bisa menghabiskan uang sementara bahan bangunan tak ada. Ditambah lagi dengan tidak adanya pertanggungjawaban yang jelas.
Untuk beberapa waktu, kapela Watoone, hanya berdiri dengan dinding tanpa atap bahkan rumput liar pun mulai tumbuh mengepungnya. Sampai di sini, Paroki Witihama masih juga membisu.
Setelah terpilih jadi Gubernur NTT, Pak Frans Lebu sungguh prihatin melihat kapela yang begitu lama tak juga selesai dibangun.
Daripada terus ditunda, Pak Frans akhirnya memberikan sumbangan uang maupun tenaga manusia langsung dari luar daerah untuk mengerjakan dan menyelesaikan pembangunan kapela ini. Tukang-tukang beserta peralatan langsung didatangkan dari luar.
Pertimbangannya jelas, bukan karena tukang di kampung tak mampu, melainkan pekerjaan tukang di kampung banyak sekali halangannya. Jika ada ini dan itu, halangan ini dan itu, maka pekerjaan pun terus tertunda dan tak selesai-selesai.
Akhirnya terbetik khabar, bahwa ada sejumlah uang yang diberikan untuk pembangunan kapela yang dikelola desa. Sampai di sini, pihak Paroki Witihama yang selama ini diam membisu tiba-tiba membuka mulut tanpa malu-malu menyatakan, bahwa semestinya pembangunan Kapela Watoone harus atas sepengetahuan paroki. 
Bahkan tanpa rasa mau mencoba meminta pertanggungjawaban pihak desa atas penggunaan uang untuk pembangunan kapela. Ulah paroki Witihama ini sempat membuat penduduk Watoone tertawa terbahak-bahak. Entah kemana gerangan Paroki Witihama sejak kapela itu dibongkar sampai akhirnya kini telah berdiri kembali sedemikian megah. Justru ketika mendengar bunyi uang, tiba-tiba menyalak dan ingin berperan.  Aneh nian.
Sayangnya, pihak desa pun tak mau menanggapi panjang lebar, karena pihak desa  merasa tak ada urusan dengan Paroki Witihama dalam hal pembangunan kapela.  Selain tak ada sepeser pun sumbangan, bahkan sekadar datang melihat-lihat pembangunan pun tidak, pihak paroki juga tak pernah mau peduli selama ini.  Lantas apa urusannya pihak Desa Watoone menyampaikan laporan kepada Paroki Witihama?
Sungguh menyedihkan dan teramat memalukan. Namun tampaknya pihak Paroki Witihama memang punya kekebalan khusus soal rasa malu.
Di sisi lain, pihak desa dengan tegas menyatakan, bahwa pihakdesa hanya bertanggung jawab kepada Pak Frans Lebu selaku penyandang dana. Bukan kepada Paroki Witihama yang baru bangun dari mimpi panjang.  Tampaknya perlu ada sedikit investigasi, mengapa kondisi Gereja Katolik Witihama beserta perangkatnya sedemikian parah. Tampaknya orang yang ada di dalamnya sudah tak berpikir dengan sedikit lurus.
Bahkan hal ini pun berlanjut pada penerimaan imam baru dari Watoone, yang menurut pastor paroki Witihama, imam baru harus menghadap dan lapor dulu kepadanya sebelum bertemu keluarganya di Watoone.Sebenarnya apa yang telah dilakukan pastor ini dalam perjalanan seorang imam baru dari Desa Watoone, sampai menuntut "bayaran" sedemikian besar? Pelajaran macam apakah yang diterima pastor ini di seminari yang konon sangat terkenal membina orang ,memilih orang,  bahkan melantik orang jadi wakil Kristus di atas dunia ini? Kalau seperti ini tabiat pastor, aku jadi ragu, apakah benar semua pastor adalah wakil Kristus. Sebab pelajaran yang saya peroleh dari Kitab Suci yang sama-sama kita pedomani, tak seperti ini. Terima kasih dan maaf.....Selagalas, 31 Oktober 2011. 

Minggu, 30 Oktober 2011

KOMODO



Manusia termasuk manusia di negeri ini, begitu banyak menghabiskan waktunya untuk memperoleh pengakuan orang lain. Bila perlu untuk mendapatkan pengakuan, ada orang yang siap mengeluarkan banyak biaya. Tak peduli, apakah pada akhirnya akan diakui atau tidak, yang penting habis-habisan dulu berjuang dengan segala daya upaya.Begitu pentingkah pengakuan itu? 
Akhir-akhir ini, kampanye digalakan kepada seluruh masyarakat Indonesia agar mendukung Komodo untuk ditetapkan menjadi salah satu keajaiban dunia. Rupanya tak hanya kemampuan, pengakuan, atau pendidikan saja yang dibeli. Manusia  bahkan mau membeli keajaiban. Jadi,  jika ternyata sebuah badan dunia itu tak mengakui lantaran kurangnya dukungan SMS, maka Komodo menjadi tidak ajaib.
Tapi jika SMS memenuhi syarat, maka ajaiblah Komodo. Apa sebenarnya yang sedang dilakukan para kapitalis ini? Komodo itu sudah ada sejak ratusan bahkan jutaan tahun lalu. Dan nyata bahwa Komodo itu kini hanya ada di Pulau Komodo dan beberapa pulau kecil lainnya di Manggarai Barat, Flores, NTT, Indonesia.
Terima atau tidak, di seantero jagad raya ini, Komodo hanya bisa djumpai di Pulau Komodo, NTT. Tak ada tempat lain manapun di duniia ini yang ada komodonya. Mau diakui atau tidak, komodo tetap ada.
Yang terjadi, justru sederetan lelucon yang tampak di depan mata. Iklan TV, koran, internet, dan kampanye-kampanye agar Komodo diakui sebagai keajaiban dunia. Bahkan bila perlu dengan mengeluarkan biaya besar demi menyandang predikat itu.
Sebagai orang NTT, khususnya Pulau Flores, kita patut patut bersyukur kepada TUHAN SEMESTA ALAM bahwa alam yang indah ini menjadi tempat yang cocok bagi reptil raksasa ini untuk berkembang biak. Syukur pula bahwa hanya di Pulau Komodo lah reptil ini bisa hidup dan tak bisa dikembangbiakan di tempat lain.
Tak seperti tambang Free Port, Irian Jaya  atau Batu Hijau, Sumbawa, NTB yang isinya bisa dikeruk dan dibawa ke tempat lain sesuka hati.
Jika saja Komodo ini bisa dibawa dan dikembangbiakan di tempat lain, kemungkinan besar yang tersisa di Pulau Komdo hanya rumput kering dan batu padas. Lantas sekarang, kita semua beramai-ramai meminta sebuah badan dunia untuk mendapatkan pengakuan sebagai keajaiban dunia.
Apakah hal itu begitu penting? Begitu pentingkah pengakuan itu? Pikiran sederhana saya sendiri, di tengah zaman global ini, asal promosi bisa jalan dengan baik, maka wisatawan mancanegara dari ujung dunia manapun akan berdatangan menyaksikannya, tanpa harus ada pengakuan dari badan dunia yang banyak persyaratannya itu.
Mungkin lebih tepat, jika yang menyatakan ajaib atau tidak itu yakni para wisatawan yang berkunjung ke sana, karena merekalah yang menjadi saksi langsung tentang keajaiban dunia yang tersisa. Tak harus mengumpulkan sejumlah sms. Siapkah yang akan diuntungkan dengan sms ini? Atau akan lebih baik jika dana yang ada dipakai utk promosi keliling dunia. Bahkan itu pun belum tentu habis pula. 
Ini namanya memberi makan orang kaya. Apakah ada kerja sama para bedebah ini dengan masyarakat Pualu Komodo yang selama ini selalu menjaga dan memelihara sisa-sisa Komodo? Bahkan jika ada sekalipun patut dipertanyakan seperti apa. 
Singkatnya, diakui atau tidak, keajaiban tetaplah keajaiban.Jadi hemat saya, tak perlulah gusar dengan hasil voting itu. Mengapa negara yang begini besar tidak PD sama sekali dengan kekayaannya yang tak ada duanya di muka bumi ini? Dengan cara bagaimana lagi agar negeri ini bisa sadar bahwa kekayaannya ini tak sanggup dibeli dengan apapun, apalagi sekadar mendapatkan pengakuan keajaiban seharga pulsa?  
Bangkitlah negeriku. Engkau tak serendah itu...Kekayaanmu bahkan membuat seluruh dunia ini seakan menjadi sinting dan mencari jalan bagaimana caranya agar bisa menumpang pada keajaiban alam, flora maupun fauna.  Untuk sementara sekian dulu.....Selagalas, 31 Oktober 2011

Imam Baru





Untuk menjadi seorang pastor, seseorang harus sekolah di seminari, setelah sebelumnya tentu saja harus meliwati jenjang pendidikan yang hampir sama dengan jenjang pendidikan yang pada umunya seperti TK, SD, SMP, maupun SMA. Namun khusus bagi sekolah yang satu ini, jika bukan sekolah langsung di lembaga pendidikan yang bersangkutan maka perlu meliwati suatu tahapan yang disebut persiapan bawah untuk tingkat SMP dan persiapan atas untuk tingkat SMA.
Yang sekolah di tempat ini memang patut diakui memiliki kualitas lain dari lain, selain kelebihan khusus dalam pelajaran bahasa asing yang sungguh fasih. Bagi siswa tamatan seminari, meskipun tak sampai menjadi pastor, tetap saja menghasilkan orang-orang yang memiliki kemampuan lebih. Itu tak dapat dipungkiri.
Untuk semua hal itu, secara pribadi yang bersangkutan yang bersekolah di lembaga pendidikan ini pun harus berjuang keras. Menjadi pastor tak hanya sekadar pintar secara lahiriah melulu. Bahkan jika kita kembali ke konteks iman, maka menjadi pastor adalah panggilan semata.
Meski sehebat apapun juga, kalau yang namanya panggilan tak ada maka ada saja aral yang mengganjal di tengah jalan, sampai akhirnya gagal meraih jubah panjang. Tak sedikit anak muda yang sebelumnya memendam semangat berapi-api dalam dada sedemikian kecewa setelah mendapati kenyataan bahwa dirinya memang tak ada panggilan.
Akhirnya harus gugur di tengah jalan dan terpaksa melanjutkan sekolah di SMA atau SMP tertentu atau kuliah di universitas tertentu jika memang sudah mencapai tingkatan kuliah.
Ada juga yang karena berkat panggilan akhirnya loloslah sampai tahap akhir dan bersiap untuk ditahbiskan menjadi imam, yang sebelumnya meliwati beberapa tahapan seperti frater, diakon, dan lain sebagainya.
Menjadi pastor dengan hidup selibat, sungguh suatu pilihan yang begitu sulit bahkan tak rasional bagi banyak orang. Namun siapakah yang dapat merasionalkan iman? Dapatkah ada formula yang menjelaskan, bagaimana manusia bersujud di depan patung? Demikianlah pilihan yang sulit itu dapat dilakukan banyak orang.
Ini belum lagi ditambah dengan konsekuensi selanjutnya atas pilihan itu. Seorang pastor atau imam, harus bersedia ditempatkan di mana saja di seluruh dunia di mana pun karya misi itu ada.  Imam baru yang telah lama meninggalkan keluarga itu, hanya datang sekadar pamitan untuk berkarya di suatu tempat yang dia sendiri tak tahu di mana, dan entah kapan akan bertemu lagi dengan keluarga.
Sebuah pengorbanan yang sekali lagi boleh dikatakan tak masuk akal.
Kemudian dengan penjelasan singkat mengenai perjalanan yang panjang menjadi seorang imam ini, sampailah saya pada peristiwa imam baru di kampung halamanku, Desa Watoone.
Ada seorang imam baru di kampungku. Dia ditahbiskan di Manatuto, Timor-Timur. Setelah ditahbiskan, dia ingin pulang kampung untuk bertemu keluarga maupun sanak kerabat yang lain di kampungnya yang ditinggalkannya berbilang tahun guna meraih imamat.
Kepulangannya yang sungguh sederhana ini justru menjadi masalah besar di kampung halaman, seakan-akan masalah itu lebih besar dari pilihan seseorang menjadi pastor dan hidup selibat. Pastor muda ini tertahan langkahnya begitu lama untuk bertemu keluarga, hanya karena ngototnya pastor paroki tempat kami berada agar sang imam muda ini harus kembali dan "menyembah" dia dulu di paroki sebelum bertemu keluarga.
Kontan saja kemauan pastor paroki ini membuat keluarga imam baru dan orang sekampung imam muda ini meradang. Mereka ingin agar pastor muda ini kembali sebentar ke keluarga sebelum menghadap pastor paroki yang ngotot itu.
Masalah ini ternyata makin tak sederhana, karena masing-masing pihak baik keluarga dan orang sekampung imam baru maupun pastor paroki yang tak mau mengalah. Di sisi lain, imam baru ingin agar pulang terlebih dahulu ke rumah dan kampungnya sebelum ke paroki.
Masalah yang sungguh kecil dan sederhana ini membuat segala persiapan penyambutan yang dilakukan panitia penyambutan di kampung halaman sang imam muda menjadi berantakan. Entah mengapa seorang pastor paroki yang telah menempuh pendidikan panjang menjadi pastor dan hidup selibat dalam kurun waktu yang sudah cukup lama ternyata belum dapat mencapai pelajaran bagaimana caranya mengalah.
Sungguh menjadi suatu petaka, bahwa seorang pastor yang belajar tinggi dan paham banyak ayat Kitab Suci ternyata belum bisa mengatasi kemauan pribadi dengan kemauan banyak orang.
Secara pribadi saya jadi heran, sebenarnya seberapa besar pengorbanan paroki (material) sampai imam baru ini dapat ditahbiskan? Atau seberapa banyak doa yang dipanjatkan (pengorbanan spiritual) sampai imam baru ini akhirnya bisa ditahbiskan yang telah dilakukan pihak pastoral paroki?
Setahu saya, untuk mendukung anaknya menjadi seorang pastor, anggota keluarga yang sederhana ini bahkan bersedia menjadi buruh TKI di Malaysia. Bahkan itu pun masih kurang sehingga ada pihak lain yang bersedia menjadi donatur.
Aku begitu sedih melihat keluarga imam baru yang begitu sederhana yang menjadi tetangga saya. Mereka dengan keberadaan mereka yang penuh keterbatasan seakan-akan menutup mata atas ketidakberdayaan mereka dengan menyekolahkan anaknya sampai menjadi seorang pastor.
Tampaknya iblis begitu murka melihat kaum kecil ini begitu taat kepada Pemilik Kehidupan ini. Sampai-sampai segala perjuangan mereka yang tak kenal lelah itu pun masih tetap dianggap kurang, dan mereka pun harus menanggung perkara baru yang semestinya tak harus mereka tanggung.
Pastor muda ini pun terpaksa masih tertahan di Timor Leste, menunggu kepastian kapan akan bisa bertemu keluarga dan kerabat di kampung halamannya sekaligus memandang wajah pastor yang ngotot itu.
Sampai di sini aku bertanya, sampai kapankah hal ini akan berakhir, meski aku tahu juga bahwa cepat atau lambat, toh semuanya akan berakhir juga.
Mudah-mudahan kita semakin sadar bahwa bertambahnya pekerja di ladang Tuhan, akan membuat panenan tambah melimpah, bukannya membuat umat menjadi bertambah liar dan tak terkendali. Gembala yang baik semestinya mendengar suara umatnya, bukannya malah mencekik umat dengan berbagai persoalan yang sebenarnya tak perlu atau berlaku ngotot dan mau menang sendiri.
Gembala yang baik semestinya menghantar umat ke padang rumput yang hijau dan mata air yang jernih, bukan sebaliknya malah menyulap padang rumput yang hijau dan mata air yang jernih menjadi gurun. Semoga......Selagalas, 30 Oktober. ....