Total Tayangan Halaman

Jumat, 04 November 2011

YANG MASIH TERJAGA ITU

Suara-suara serak dari balik fatamorgana yang membakar ubun-ubun, makin terlihat nyata di sepanjang jalan. Kekeringan yang melanda akibat kegemaran aneh dari orang-orang aneh yang suka membakar.
Tak hanya membakar, tapi juga merusak dengan alasan, kayu itu akan dipakai merehab pondok di kebunnya, atau membuat kusen pintu dan jendela rumah, atau lebih sadis lagi, bahkan dijual untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
Meski tanaman semakin kering dan meranggas, bahkan kesulitan air minum hingga puluhan bahkan ratusan tahun turun temurun, hal itu tak pernah membuat orang sadar untuk cinta akan kelestarian lingkungan.
Yang justru terjadi yakni malah keinginan dan nafsu yang kian bergelora untuk menghabiskan apa yang tersisa. Sisa-sisa pohon yang masih berdiri di tengah padang yang tandus, yang daunnya meliuk ke sana-kemnari diterpa angin panas kemarau, hendak ditamatkan pula riwayatnya demi sebuah nafsu.
Entah mengapa kegemaran merusak hutan ini justru ada di tengah manusia yang tinggal di kawasan tandus. Bukit yang gundul, tanah yang kini hilang humusnya karena lebih banyak dipakai menanam jambu mete, tak juga menyadarkan masyarakat bahwa tak hanya wabah kelaparan yang akan menimpa, tapi juga wabah kekeringan.
Memang di bagian lain dari pulau yang kecil ini, masih tersisa seonggok hutan yang menjadi penyangga air di seluruh pulau. Namun mata air yang menjadi milik pribadi, cukup menyulitkan untuk dilaksanakan pelestarian secara menyelujruh.
Belum lagi belum ada pengaturan yang jelas, sebenarnya di mana tanah pribadi dan sampai batas mana tanah yang semestinya menjadi kawasan hutan tutupan.
Marilah kita menyempatkan diri sesaat menatap Gunung Boleng yang gundul sejak dari kawasan puncak hingga pertengahan, bahkan hingga lereng dan lembah. Gunung ini cukup tinggi dengan kawasan bebas dari kegiatan usaha tani yang cukup luas.
Namun hal itu tak banyak berpengaruh, karena kawasan yang tak tersentuh itu pun dibiarkan kosong begitu saja, tak pernah ada program penghijauan atau sekadar memberi sosialisasi kepada masyarakat yang tinggal sekitar kawasan agar mau menanam satu atau dua batang pohon.
Sejauh ini peranan pemerintah hanya menyelesaikan masalah jangka pendek, yakni memasang pipa air dari tempat yang ada sumber airnya demi memenuhi kebutuhan masyarakat.
Sedangkan untuk jangka panjang, tampaknya kurang diminati, karena bukan tak mungkin hal ini secara politis, tak begitu mendukung alias kurang berguna. Itu karena baik pemerintah maupun masyarakat selalu mengharapkan sesuatu yang instan. Sungguh jauh membayangkan ada pemerintah maupun masyarakat yang memiliki pemikiran secara moral mengenai tanggung jawab akan pelestarian lingkungan.
Di sisi lain, kebutuhan akan kayu juga kian mendesak dari hari ke hari. Dan jangan lupa, pohon yang ditebang sekarang untuk berbagai keperluan itu, bukan ditanam setahun atau dua tahun lalu, melainkan bertahun-tahun sebelumnya.
Setelah menghabisinya dalam sekejap, penjahat lingkungan ini tak sedikit pun tergerak hatinya untuk menggantinya dengan yang baru. Akibatnya, pohon yang hidup puluhan tahun itu lenyap begitu saja dan hari demi hari, suasana gerah maupun kekeringan kian terasa.
Sejauh ini pula tak ada batasan yang jelas, mana kawasan yang tak boleh diganggu. Akhirnya tanaman yang sudah tumbuh sejak puluhan tahun, ditebang tanpa ampun di sepanjang lereng gunung, dan berakhir hanya di dapur api untuk keperluan masak memasak.
Hal ini tentu tak akan jadi masalah, jika penebangan itu disusul dengan penggantian tanaman baru yang tentu saja cocok dengan kondisi sekitar. Tentu saja kita menanam tanaman keras yang tahan kekeringan.
Bila perlu setiap penebangan, selalu diiringi dengan perhitungan, tebang satu tanam tiga atau 10. Karena kondisi lahan yang ada, khususnya di lereng gunung yang cukup luas itu masih sangat memungkinkan untuk dilakukan.
Dengan penanaman yang cukup giat di sepanjang lereng Gunung Boleng, bukan tak mungkin bahwa dalam jangka waktu tertentu, mata air yang sebelumnya kering kerontang, pada akhirnya dapat muncul kembali. Kecuali kalau pelajaran ilmu alam yang kita peroleh di sekolah selama ini ternyata keliru.
Kita sangat patut prihatin, karena seiring makin menipisnya pohon-pohon di padang maupun sisa hutan yang lebih sering dibakar daripada diitanami, maka sejumlah satwa pun kian berkurang bahkan musnah.
Jika sekarang ini anda semua berkesempatan berjalan-jalan ke Puncak Gunung Boleng, maka anda sudah pasti akan kesulitan menjumpai kambing hutan atau babi hutan, termasuk beberapa jenis unggas yang sudah menyentuh taraf langka.
Dan yang lebih mengerikan lagi, terbetik berita dari kampung halaman, bahwa banyak anak muda yang berleha-leha di Puncak Gunung Boleng dan membuat banyak "kekacauan" di sana. Kita perlu berhati-hati akan hal ini, karena terlampau berat.
Jangan lupa, bahwa meski Gunung Boleng ini begitu kering kerontang, namun masih sangat terjaga secara ROHANI. Jadi jika membuat ulah yang macam-macam di tempat ini, saya pikir sulit bagi anda semua untuk mempertanggungjawabkannya.
Sedangkan terhadap apa yang terlihat pun (Kerusakan hutan) anda tak dapat berbuat apapun, apalagi terhadap hal yang ROHANI, yang tak terlihat. Hati-hati karena hal itu tak lama lagi. Terima kasih.

Kamis, 03 November 2011

Pantai di kawasan Mandalika, Lombok Tengah. Kawasan pasang surut ini akan semakin indah jika dijadikan Hutan Mangrove..

KAPAL RATU ROSARI

Terserah kepada sidang pembaca, apakah ini bisa dipandang sebagai suatu keanehan atau hal yang biasa-biasa saja. Yang jelas, peristiwa ini saya alami pada 5 Juli 1986 di Kota Larantuka. Persisnya di Dermaga Larantuka dan sekitarnya.
Ketika itu saya baru pulang sekolah dari SMA PGRI Larantuka. Kekurangan lokal sekolah memaksa kami yang duduk di bangku SMA untuk sekolah sore. Tepat pukul 17.45 Wita, sekolah bubaran.
Saya pulang ke Pantai Besar, rumah Pak Thomas Boro, tempat saya menumpang selama sekolah di Larantuka. Di rumah keluarga yang sangat saya kasihi karena betapa baiknya mereka dan tentu saja jasa mereka tak akan sanggup saya balas, Ama Djou Bolly sudah menunggu. Karena menurut rencana, hari itu Ama Djou Bolly bersama keluarga akan bertolak ke Pulau Seram dengan menumpang Kapal Ratu Rosari.
Satu-satunya orang yang tak percaya adalah Pak Thomas Boro. Mungkin sesuai nama Santo Thomas yang disandangnya, Pak Thomas memang benar-benar tak percaya jika belum melihat bukti. Ratu Rosari baru seminggu lalu berangkat ke Surabaya dari Dermaga Larantuka. Jadi sekarang ini paling-paling masih dalam perjalanan ke Surabaya. Tidak mungkin datang hari ini di Pelabuhan Larantuka, '' kata Pak Thomas, sang petualang sejati yang sungguh hafal jadwal keberangkatan kapal maupun motor laut di hampir semua jalur.
Namun Ama Djou Bolly tetap tampak tenang dan memberikan kepastian bahwa hari itu kapal Ratu Rosari akan bersandar di Larantuka. Ketika aku tiba di rumah Pantai Besar, Ama Djou Bolly langsung meminta kami menyiapkan segala sesuatu untuk mengantarnya ke Dermaga Larantuka bersama keluarga.
Kami pun menyiapkan segala keperluan untuk mengantar keberangkatannya. Apalagi barang yang dibawa pun cukup banyak ditambah lagi dengan rencana Ama Djou Bolly yang akan menetap dalam jangka waktu cukup lama di Pulau Seram, atau setidak-tidaknya di Provinsi Maluku.
Kami berangkat dengan penuh tanya dalam hati, apakah mungkin ada kapal yang akan mengantar keluarga ini sampai tujuan. Sebab Pak Thomas Boro sangat yakin hari itu tak ada kapal, apalagi Kapal Ratu Rosari yang baru berangkat kira-kira sepekan lalu ke Surabaya.
Setelah kami ada dalam angkutan umum yang mengantar kami ke Dermaga Larantuka, suasana begitu sepi dalam kendaraan itu. Tak ada yang berbicara atau menyampaikan sesuatu.
Sementara dari atas angkutan umum yang meliwati jalur pinggir pantai, terlihat pandangan nun jauh di sana, tak ada kapal satu pun di Dermaga Larantuka, hanya perahu nelayan yang parkir di pantai.
Dalam beberapa menit, akhirnya sampailah kami di dermaga itu. Meski dermaga ini sungguh sepi, apalagi matahari sudah makin memerah pertanda senja pun mulai tenggelam, namun Ama Djo Bolly dengan suara yang rendah tetap meminta kami mengakut barang keperluan yang akan di bawa ke kapal yang akan mengangkut mereka ke tujuan.
''Tidak ada kapal, mana ada kapal. Benar kata Pak Thomas,'' kata Kakak Simon Kopong, salah seorang yang ikut mengantar.
Kakak Elias Masan yang ikut ngantar tampak hanya pasrah, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya sedikit tersungging senyum di bibir, seakan tak percaya bahwa kapal akan datang. Namun Ama Djou Bolly tetap menyatakan, bahwa hari itu kapal akan datang.
Sinar matahari kini hanya tampak di puncak bukit Tanjung Gemuk, Adonara. Angin yang sejuk semilir mulai terasa berhembus. Kemudian dari tengah laut sana, datang sebuah kapal dengan posisi menyamping dan langsung sandar tanpa peringatan bolak balik dari anak buah kapal.
Di lambung kapal itu tertulis, Ratu Rosari dengan huruf besar, kemudian huruf agak kecil di bawahnya, Surabaya, namun semuanya huruf kapital. Meski senja telah turun namn tiang kapal masih tampak berkilat ditimpa sisa-sisa cahaya mentari senja.
Ama Djou Bolly pun bergegas menarik lengan saya dan membawa saya ke ujung dermaga yang lainnya. Di tempat itu Ama Djou Bolly memegang kedua lengan saya dan menyampaikan beberapa pesan penting, khususnya mengenai DATANGNYA DUNIA BARU ADONARA.
Setelah itu Ama Djou Bolly langsung pamitan menuju kapal itu.
Kami membantunya memasukan barang-barang berupa pakaian, termasuk mesin jahit. Dan terakhir tikar untuk alas tidur di palka kapal.
Setelah membereskan semua itu, Ama Djou Bolly kemudian melangkah mendekati pinggiran kapal. Sebentar kemudian Ama Djou menumpukan tangannya di pinggir kapal itu, kemudian tangan yang sebelah lagi dilambaikan kepada kami. Bersamaan dengan itu, kapal yang tak menurunkan jangkar itu langsung meninggalkan Dermaga Larantuka.
Dalam sekejap saja, Dermaga Larantuka yang sempat hiruk pikuk itu sedemikian sepi. Kapal itu telah bergerak ke arah Timur menantang arus Gonsalu. Dan kami pun berjalan beriringan pulang menuju angkutan umum menuju Pantai Besar.
Kakak Elias Masan sempat menanyakan, apa saja pesan Ama Djou Bolly yang disampaikan kepada saya. Saya hanya katakan, ada beberapa pesan, namun salah satunya, bahwa Ama Djou Bolly akan kembali lagi ke Adonara 10 tahun kemudian.
''Mana Ama Djou mereka dan yang lainnya,'' tanya Pak Thomas Boro ketika kami tiba di rumah Pantai Besar.
''Mereka sudah berangkat dengan Kapal Ratu Rosari tadi,'' jawabku singkat.
''Tapi tadi dari sini kami tidak lihat ada kapal yang liwat di laut sana,'' kata Pak Thomas seakan tak percaya.
Maklumlah, Pantai Besar berada di ketinggian menghadap laut lepas yang ada di depaan. Jadi jangankan kapal besar, bahkan motor dari dan ke Waiwerang, Adonara ataupun perahu nelayan pun sungguh mudah dipantau dari tempat ini.
''Tapi mereka memang sudah berangkat semuanya, dengan kapal Ratu Rosari,'' jawabku lagi menegaskan.
Dahi Pak Thomas tampak agak berkerut. Seakan tak percaya, Pak Thomas hanya bergumam, ''Bagaimana bisa begitu ya? Kapal Ratu Rosari kan belum seminggu ini ke Surabaya,'' ujarnya seakan pada diri sendiri.
Apapun yang terjadi, dan bagaimana pun terjadinya, ketika itu memang Ama Djou Bolly beserta keluarga berangkat ke Ambon. Cerita ini kusampaikan kepadamu sekadar berbagi sebuah peristiwa yang menurutku sendiri tidak lazim. Anda percaya atau tidak, itu terserah anda. Selagalas, 4 November 2011.

Rabu, 02 November 2011

Pantai Aan, Lombok Tengah, Prov NTB

Pantai Aan, Lombok Tengah, NTB

Pantai ini membuat Presiden RI pun terkagum-kagum

TAPAL BATAS

Dengan darah, sejengkal tanah dipertahankan. Maka bicara tentang tanah, sama saja dengan bicara tentang darah. Hal yang sensitif ini harus diselesaikan dengan baik, jika tidak maka akan kembali kepada penyelesaian asal yakni darah.
Apa penyelesaian yang baik itu? Satu-satunya cara yang masih tersisa, selain penyelesaian dengan darah yang menjadi puncak penyelesaian setelah segala jalan tak bisa ditempuh, yakni mengurai sejarah. Jika sejarah dapat dipaparkan dengan baik, diberikan penjelasan yang hakiki, dan diletakan pada dasarnya yang wajar, maka kita akan paham, mana yang sepatutnya berhak dan mana yang tak sepatutnya berhak.
Dengan demikian, tak akan terjadi pertumpahan darah sebagaimana yang dikhawatirkan, karena batas tanah sekali lagi merupakan hal yang terlampau sensitif.  Ini ditunjang lagi dengan bukti kepemilikan yang tak tertulis seperti sertifikat.
Kepemilikan atas tanah di tempat ini, berdasarkan sumpah para pendahulu yang mewariskan tanah itu. Jadi jika ada yang main-main dengan batas tanah, maka yang bersangkutan akan berurusan dengan sumpah yang melekat atas tanah itu.
Juga perlu diingat bahwa apa sumpah yang terucap, tak ada yang tahu, karena disampaikan dengan gaya lisan. Maka penyelesaian atas sengketa batas tanah pun sedemikian runyam. Bukti kepemilikan tanah akhirnya beralih pertaruhan yang murni.Jika benar maka tegak, jika salah maka gugur.  Demikianlah adanya hukum adat di Adonara  menyelesaikan perkara.  Tapi itu dulu. Namun jika di zaman ini masih ada yang ngotot juga, bukan tak mungkin hal serupa akan terulang. Karena hal ini sepertinya sudah menjadi darah daging di Adonara.
Zaman ini, ketika hukum ditegakan dalam keadaan miring sana miring sini, yang benar dapat disalahkan, yang salah dapat dibenarkan karena berbagai cara, maka tidak demikian dengan sejarah. Zaman ini, asal ada uang maka penentu keadilan dapat disogok beberapa rupiah untuk membelokan keadilan. Maka zaman dulu, ditentukan dengan darah. Jika benar maka tetap tegak di atas tanah itu, jika salah namun tetap ngotot maka akan terkapar.
Hal yang sedang diuraikan ini bukanlah menyangkut suatu batas tanah di suatu negara yang begini luas, tetapi soal batas tanah di pulau nun jauh di sana, di Pulau Adonara, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Meski berada dalam suatu wilayah kabupaten di dalam negara ini yang telah memiliki hukum negara untuk menentukan segala hukum dan aturan soal hak milik, namun orang Adonara juga punya aturan sendiri yang sudah ada sejak dulu, entah kapan.
Yang jelas ini aturan warisan yang tetap dipegang teguh, dan tak pernah lekang dimakan zaman. Putusan hakim di dalam ruang sidang, hanya dianggap sebagai sinetron. karena dianggap telah kehilangan dasarnya yang murni?
Mengapa? Karena putusan hakim di dalam ruang sidang yang digelar di atas dunia ini, bisa berubah warna seperti bunglon sesuai situasi. Bisa putih, hitam, bahkan abu-abu.
Bagi orang Adonara, memungkiri aturan adat Adonara sama saja dengan memungkiri diri sendiri, karena setiap jengkal tanah dipertahankan dengan darah.
Aturan di atas kertas boleh ngoceh tentang kebenaran sampai ke ujung langit, tapi sanggupkah aturan itu berhadapan dengan PENGADILAN DUNIA BAWAH TANAH? Inilah yang menjadi patokan paling akhir, yang membuat orang berpikir ribuan kali jika mau melanggar batas tanah, bahkan pelanggaran-pelanggaran lainnya tergantung kadar pelanggaran.
Jika Kitab Suci telah memiliki aturan sendiri soal batas tanah, maka demikian pula aturan adat. Dan kedua aturan itu untuk masyarakat Adonara tampaknya tak terlampau berseberangan, meski aturan adat memang jauh lebih keras dan tegas jika dibandingkan kitab suci.
Kitab suci memang melarang dengan sangat tegas, namun aturan adat disertai sanksi adat yang boleh dikatakan sangat mengerikan Seperti yang diuraikan sebelumnya, tanah = darah.
Di zaman ini, ketika makin banyak orang yang sekolah dan mempelajari aturan yang dibuat negara, beserta segala cara meloloskan diri jika terlibat masalah, orang mulai mencari-cari cara juga untuk mendapatkan sesuatu yang bukan hak.
Apakah demikian juga terjadi di Adonara? Saya pikir hanya orang yang punya nyawa rangkap 10 saja seperti Rahwana yang berani melakukan hal itu. Karena sanksi adat sangat nyata, dan itu berlangsung di segala zaman.
Dapatkah seseorang atau sekelompok orang mengakui sebidang tanah apalagi suatu kawasan sebagai miliknya sementara yang bersangkutan tak tahu sama sekali sejarah atas tanah itu? Adonara tidaklah terlalu luas, dan bagaimana sejarah tanah milik masing-masing lewo yang ada di dalamnya, sungguh sangat jelas.
Jika di kemudian hari tiba-tiba ada yang mengklaim tanah itu sebagai milik tanpa latar sejarah yang jelas, maka inilah yang tampaknya menjadi cikal bakal pertumpahan darah baru di era modern.
Sementara itu, penyelesaian tapal batas dengan menggunakan aturan pemerinta/negara, tampaknya kurang bahkan tak berpengaruh di dalam hukum adat Adonara. Karena itu, penyelesaian melalui jalur pemerintah, bukannya berujung penyelesaian melainkan menambah bara di atasnya.
Satu-satunya untuk menghentikan segala kekacauan ini yakni penyelesaian secara adat istiadat, Jika zaman sebelumnya masing-masing orang berdiri di tapal batas dengan reket masing-masing untuk membuktikan kebenarannnya menurut hukum Adonara, maka ada pula jalan yang tak harus berhadapan langsung dengan reket. Yakni Sumpah di depan Nuba.
Di tempat itulah para pihak dapat mengangkat sumpah satu sama lain untuk menegaskan tapal batas masing-masing sesuai latar sejarah. Masalah yang muncul kemudian yakni, dimanakah sumpah itu akan dilaksanakan dan di depan Nuba yang mana. Jika tak ketemu lagi jalan yang sesuai maka satu-satunya jalan yakni mendirikan Oring Geraran dan Paha Eken serta peri Nobo di tapal batas  yang diakui...
Lebih lanjut, kita semua tak akan sanggup menjamin, apakah yang akan terjadi kemudian. Jika bukan "ata tani maka ata geka."  Itu saja. Dan lebih dari semuanya itu, akan lebih baik jika yang merasa tak tahu latar sejarah dan tak berhak, sebaiknya jauh-jauh hari mundur dan melakukan perdamaian. Karena ini jalan paling baik, tanpa korban sama sekali, selain korban beberapa ekor hewan untuk upacara perdamaian. Manakah yang anda pilih....???  Selagalas, 3 November 2011



Selasa, 01 November 2011

DUNIA BARU

Ketika manusia jatuh dalam dosa, maka Tuhan menciptakan dunia baru bagi manusia. Manusia tak lagi tinggal di Firdaus yang serba ada. Mereka didepak keluar dari taman yang menjadi impian umat manusia yang menghuni bumi sekarang ini maupun manusia di zaman jauh sebelum ini.
Terhadap manusia pertama beserta keturunannya, masih berlimpah berkat yang luar biasa. Kemudian datanglah masa kegelapan lagi. Bumi harus disucibersihkan dari manusia yang terlalu banyak yang hidupnya sudah tidak karuan.
Tuhan juga mengadili Sodom dan Gomorah dengan api. Barang siapa yang masih menghendaki apa yang ada di dalamnya dan menoleh untuk mengambil sesuatu di dalamnya, akan menjadi tiang garam.
Ada pula kota yang masih dapat diselamatkan seperti Niniwe yang mau mendengar peringatan Tuhan melalui Nabi Yunus
Manusia yang jatuh bangun dengan nafsunya yang berkobar ini, juga jatuh sangat jauh sehingga butuh pembersihan cukup total. Tuhan mengirim air bah, namun menyelamatkan Nabi Nuh beserta keluarga dan kerabatnya, termasuk segala hewan peliharaannya dan lain sebagainya.
Pembersihan demi pembersihan mulai muncul di segala zaman dalam berbagai bentuk dan ragam.Gempa bumi, perang, kelaparan,dan lain sebagainya menjadi warna lain dalam pengadilan baru untuk sebuah dunia baru.
Semua itu ada dalam Kitab Suci Injil. Lantas bagaimana dengan keseharian kita di zaman ini? Zaman ketika pemberitahuan akan hal ini telah disampaikan ribuan tahun lalu?
Bahwa akan ada dunia baru. Entah seperti apa bentuknya, dan seperti apa nanti manusia yang ada di dalamnya.
Namun patokannya, tetap sama saja dari dahulu kala, bahwa yang masuk dalam dunia baru hanyalah manusia yang lolos seleksi. Jika tak lolos seleksi, tak mungkin akan masuk dalam dunia baru.
Bicara tentang dunia baru, seakan sebuah bayang-bayang, siapakah yang tahu, dan siapakah yang menjaminnya? Namun jaminan dunia baru sangat jelas, yakni jaminan akan kehdupan yang penuh dengan kasih, suka cita, dan damai sejahtera.
Dunia baru hanya memuat hal ini. Jika masih ada pertentangan atau perselisihan maka   dunia baru hanyalah berisi bayang-bayang kiamat yang datang dan perginya pun serba misterius.
Bagi manusia yang hidup dalam suasana kasih,sukacita, dan damai sejahtera, maka hari-hari hdupnya dipakai untuk menantikan apa yang disebut sebagai dunia baru itu. Dunia yang bebas dari rasa dengki, iri, dan benci. Bahkan tanpa disadarinya, sebenarnya dia sudah ada dalam dunia itu seraya menanti kepenuhan.
Dunia yang menyatukan semua hati dalam kasih sayang yang penuh. Tiada lagi saling curiga atau berprasangka. Dunia yang begitu sulit diukur takarannya dengan kondisi dunia saat ini yang penuh dengan wabah penyakit, kelaparan, perang, dan bencana-bencana.
Manusia bukan tak mungkin melangkah ke sana, namun seperti menyeberangi lautan orang butuh kapal, maka menyeberang ke dunia baru pun butuh sarana bahkan jika menganut konsep Krstiani, manusia butuh diselamatkan.
Sekarang, jika ada orang mulai berseru di padang gurun kehidupan ini, Luruskanlah Jalan Tuhan, Ratakanlah lorong-lorong. Setiap lekukan harus ditimbun. karena Dia yang telah ditetapkan sejak zaman prbakala dan para nabi, akan datang menyelamatkan dunia, janganlah manusia terus menutup telinganya dan membutakan matanya, atau membendung dengan sekuat tenaga suara itu dengan dentuman musik dari ruang dugem yang gegap gempita.
Hal itu bukan tak boleh, namun di zaman yang menjelang akan berakhir ini, perlu ada upaya memanfaatkan waktu yang tersisa untuk mendengarkan suara yang dikumandangkan sedemikian lantang dari padang gurun kehidupan ini.
Padang gurun di zaman Yohanes Pembaptis, memang benar-benar padang gurun, sebagaimana Yohanes pun makan belalang dan madu hutan. Namun bukan mustahil, kehidupan zaman ini yang dilanda krisis iman, maupun krisis hidup karena banyak orang lebih senang bermain-main di bibir maut, dapat pula diartikan sebagai padang gurun kehidupan yang sedemikian haus akan setetes kasih sayang, apalagi suka cita, dan damai sejahtera. 
Siapakah suara yang berseru-seru di zaman ini, dari gurun kehidupan yang panas mencekam itu? Dengarkanlah suaranya segeralah ambil langkah sebelum semuanya terjadi, karena akan ada penyesalan panjang jika segalanya telah terjadi.
Sebagaimana Yohanes Pembabtis ditolak dan dipertanyakan kuasanya saat membaptis orang termasuk membaptis Yesus, demikian pula Yohanes Pembaptis zaman ini, yang akan datang dengan suara yang lantang dari padang gurun kehidupan, menantang para penguasa tamak, dan farisi-farisi berjubah panjang yang berbaris di loteng rumah ibadat.
Segeralah buka mata dan siagalah, karena hal ini berlangsung dalam waktu yang cukup sulit diterka. ....Demikian dan harap maklum..serta terserah padamu.....Selagalas, 2 November 2011.