Total Tayangan Halaman
Jumat, 08 Februari 2013
BENDUNGAN JENGGIK
Bendungan Jenggik di Terara, Lombok Timur, musim hujan jadi bendungan, musim kemarau jadi lapangan sepak bola..
Pemandian Joben, Lombok Timur, NTB
Tempat ini selalu ramai dikunjungi warga. Tinggal pilih, mau mandi di air terjun atau di kolam...semua tersedia...
Rabu, 06 Februari 2013
Kegersangan Ini
Pernahkah anda merasa kekeringan? Sendirian? Ditinggalkan? gersang? Jika anda belum merasakan hal itu, berdoalah agar anda bisa merasakannya. Jika tidak, betapa sepi hidup anda ini.
Mungkin setiap kali anda boleh berkumpul dengan keluarga, bersenang-senang, dan tercukupi segala keperluan. Tapi jika anda belum pernah merasakan kegersangan rohani, anda sebenarnya belum sungguh-sungguh jadi manusia.
Kekeringan membuat orang sadar bahwa dia bukan makhluk maha kuasa. Kegersangan mengajari manusia utk mememuji dan memuliakan Dia yang telah mencurahkan segala berkat. karena itu, hendaklah menyisihkan waktu untuk hari-hari kelam dalam hidup anda, agar anda dapat belajar hakikat hidup ini. Sebab kesenangan tak mengajarkan banyak hal...terima kasih
Di Kayangan, Lombok Utara...
Manusia....Manusia....Manusia....!!!
Aku duduk di suatu hari. Aku membayangkan suatu masa depan. Tentu saja yang indah, tanpa hambatan, tanpa sedikit pun kesusahan. Segala yang tak menyenangkan kusingkirkan dari anganku.
Aku terus menghayal,seakan-akan hidup inihanya sebuah hayalan. dan pada suatu titik aku menyadari bahwa hidup sungguh hambar tanpa halangan. Hidup sungguh tak berarti tanpa derita. Dan hidup seakan tanpa makna jika tak ada sedikit pun derita di dalamnya.
Maka aku berusaha membalik hayalanku, mengenai suatu yang pahit, yang mengerikan dan menakutkan aku.
namun di tengah bayanganku yang agak "gila" itu, aku pun menjadi ngeri sendiri. Aku seakan tersadar, bahwa begitu unik cara Dia yang menjadikan segala sesuatu ini dalam melawat umat kita manusia. Bahkan karena sedemikian uniknya, kita kadang-kadang bahkan sering menyalahartikan lawatannya.
Kita lupa bahwa tak selamanya kesenangan itu menghibur. Kita juga lupa bahwa tak selamanya kesusahan itu menyusahkan. Kepenatan hidup dan pengasahan nurani yang kuranglah yang membuat manusia menjadi tumpul akan maksud baik Dia yang telah menjadikan dan memelihara kita.
Kita menjadi penuh prasangka, bahwa Dia telah tidak adil kepada kita. Padahal, apa yang kita anggap tak adil hanyalah cara Dia menyapa kita yang kurang peduli.
Pada akhirnya,kita akan sadar, betapa tak berdayanya manusia ini. Meskipun ada diantara manusia yang oleh karena kekayaan yang berlimpah, punya simpanan uang tak habis-habis, mengira bahwa mereka bisa mengatur segala sesuatu menyangkut hidup ini.
Mungkin sangat banyak orang tak menyadari bahwa begitu banyak dari antara manusia yang akhirnya tanpa sadar, lenyap di tengah segala kekayaaannya. Hal itu sangat mungkin terjadi karena dia menganggap bahwa kekayaannya lah yang menolong dia. Dia lupa dari mana sebenarnya asal dari semua itu.
Dia hanya tahu bahwa itu miliknya dan keturunannya entah sampai ke berapa. Dia tak tahu bahwa sebenarnya segalanya itu bisa lenyap dalam sekejap saja. Semoga manusia memiliki kesadaran, bahwa harta benda dunia ini bukanlah yang utama. Jika kesadaran paling rendah ini pun tak dimiliki, bagaimana kita dapat berharap akan dunia masa depan yang lebih ramah....?
Bonsai keren...
Abu-abu di Titik Waspada
Siapakah yang dapat menjamin kekuatan iman seseorang? Meskipun seorang pastor, usukup, bahkan mungkin lebih tinggi dari itu, tampaknya tak menjadi jaminan, orang itu akan kuat. Justru sebaliknya makin tinggi jabatan, atau kebaikan yang dimiliki, tantangan yang datang mungkin semakin banyak.
Ada pastor yang begitu gagah, yang santun, yang khusyuk berdoa, yang selalu melayani umatnya dengan sepenuh hati. Namun tak selamanya hal itu berjalan mulus. Ada yang tersandung, bahkan di tepi jurang, yang membuat mereka jatuh begitu jauh, jauh sekali, bahkan mungkin tak pernah bangkit lagi.
Namun kata Amsal, tujuh kali orang benar jatuh, dia akan bangkit lagi, tapi orang fasik, binasa selamanya. Engkau dan aku, siapakah kita? Jangan sampai diremukan tanpa bisa dipulihkan lagi, karena tak sedikit orang yang juga mengalami nasib setragis itu.
Semoga di tengah segala kekalutan ini, kita sanggup mengarahkan hati kepada-Nya. karena hanya Dialah satu-satunya penolong dari segala ancaman, segala wabah, kesukaran, bahkan kesenangan yang menipu. Semoga hati kita cukup teguh dalam menjalani setiap langkah hidup kita ini, sebab tak semua orang akan sanggup bersikap tulus dalam menghadapi segala bala.
Kepintaran, kekayaan, gagah, dan lain-lainnya memiliki tantangannya sendiri. Bahkan pujian-pujian pun kadang terselip racun. Cara iblis begitu banyak dalam menyesatkan manusia fana ini. Karena itu hanya dalam Terang Tuhanlah, segala yang jahat itu akan nampak. Justru itulah mengapa iblis begitu benci akan Terang. Karena dia adalah sumber segala kegelapan dan dia adalah kegelapan itu sendiri. Namun kegelapan tidak akan pernah menang melawan Terang. ...Semoga...
Di Pantai Senggigi, Lombok Barat, NTB
IMAM, IMAN, HATI
Terbetik kabar tak sedap. Katanya, mantan suster dibunuh bersama dua anaknya yang masih kecil. Yang membunuh adalah pastor yang menghamilinya dan akhirnya melahirkan dua orang anak. Tidak hanya dua anak yang dibunuh, mantan suster itu pun dihabisi dan dimakamkan dalam satu lubang.
Harimau pun tak makan anaknya sendiri. Namun manusia bisa juga "makan" darah dagingnya sendiri dan ironis sekali ini dilakukan seseorang yang memiliki tingkat keimanan di atas rata-rata masyarakat biasa.
Apa gerangan yang terjadi ini? Jangan lupa, bahwa ini bukan kejadian kemarin dua hari lalu melainkan sudah bertahun-tahun. Konon, masalah ini terbongkar setelah mantan pastor itu "ribut" besar dengan simpanannya yang lain lagi.
Informasi tambahan, kasus ini terungkap setelah adanya ritual yang digelar di kampung asal mantan suster yang dihabisi mantan pastor beserta dua anak mereka. Istilahnya "gere dai".
Keluarga yang kebingunan karena tak ada kabar dari anaknya yang suster pun bertanya-tanya dimana gerangan anak mereka. Namun dengan lincah sang mantan pastor menjawab, ''Dia sedang tugas belajar di Roma.''
Yang patut dipertanyakan, dimanakah para atasan sang pastor ketika masalah ini terjadi? Kami umat ini memandang sedemikian sakral mimbar gereja, bahkan mendekati tempat ini pun serasa tak pantas. Berjabat tangan dengan sang pastor, ingin rasanya mencium tangan itu, karena dalam hati, dia bukan lagi manusia biasa, melainkan wakil Kristus yang nyata di dunia.
Ketika terjadi peristiwa ini, imanku berontak menggugat aku, inikah wakil Kristus itu? Wakil Kristus macam apakah yang dengan darah dingin menghabisi tiga nyawa, dua diantaranya darah dagingnya sendiri?
Maaf, aku tak mau mengadili orang, aku hanya katakan, semua ini sungguh tak bisa diterima, tak hanya akal, apalagi hati. Tolonglah anda-anda semua yang telah "dilantik" jadi wakil Kristus, jangan nodai jabatan itu. Atau sekurang-kurangnya, jangan membuat kami ragu akan iman kami. Karena tindakan seperti ini, secara fisik hanya menghilangkan tiga nyawa, tapi secara rohani, akan sangat mungkin menghilangkan banyak sekali nyawa....
Tolonglah....tolonglah....kami ini umat, iman kami tak sekuat imanmu. Kelakuan kami tak sebagus kelakuanmu. Akhlak kami tak semulia akhlakmu. Jadi jangan ajar kami utk menjadi lebih jahat dari engkau.
Kami berusaha untuk tidak menjadi pembunuh, tapi menyaksikan kebejatan yang sungguh mengerikan ini, rasanya cukup layak jika aku tak mau menghabisimu secara cepat, karena itu terlampau ringan bagimu.
Aku ingin mencabut satu per satu gigimu, kukumu, mencopot kakimu satu per satu. Mencungkil seluruh perangkat tubuhmu satu per satu. Dan seterusnya. Tapi sepertinya itu pun belum membuat aku puas sama sekali.
Akhirnya aku berpikir, ada baiknya jika aku tak perlu serupa apalagi sama dengan engkau sang pembunuh berdarah dingin. Jika aku mengikuti kehendak hatiku dan menjadikan engkau senibo' maka tampak secara samar-samar, aku hampir tak ada bedanya dengan engkau.
Kalau begitu, di sudut kehidupan ini, dengan segenap hati, aku persemabahkan kepada Dia Yang Mahatahu, Yang Berkuasa Atas Segalanya. Biarlah Dia yang akan bertindak, karena itulah yang terbaik.....Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)






